
Namaku Bukan Namaku
Februari 10, 2008Siapa namamu? Saya berharap namamu tidak sejelek nama saya. Orang-orang selalu menertawai namaku. Kenapa orang tua saya memberi nama yang unik seperti ini. Kenapa saya harus mempunyai nama yang memalukan seperti ini, saya tak pernah tahu. Saya sungguh-sungguh tak pernah tahu sampai suatu hari seseorang bernama Loppo Pau yang mengaku teman sekolah saya sewaktu masih SD bercerita tentang sebuah kisah.
***
Semua orang sama uniknya dengan sidik jarinya. Kamu unik, saya juga unik. Semua orang memiliki keunikan yang berbeda dengan orang lain. Labetta seorang lelaki berumur dua puluh delapan tahun memiliki sebuah keunikan. Dia adalah seorang guru sebuah sekolah dasar di Rantasa, sebuah kota kecil di negeri Mabela. Sebuah sekolah yang sangat jelek, sangat kotor. Penuh dengan sampah-sampah. Di selokannya penuh dengan limbah yang sangat busuk. Di sekeliling sekolah itu tumbuh belukar yang tinggi-tinggi. Dan di tengah belukar-belukar yang tinggi dan beracun itu banyak hidup binating berbisa seperti ular dan kalajengking. Binatang-binatang itu seringkali masuk ke dalam kelas dan menggigit anak-anak yang sedang belajar. Di dalam kelas juga banyak tumbuh ilalang yang bunganya selalu melengket di rok dan celana murid-murid yang masih kecil-kecil itu. Sangat mengganggu.
Labetta mengajar murid kelas tiga. Muridnya sedikit, hanya lima belas orang. Padahal di kota Rantasa itu banyak sekali anak yang semestinya sekolah. Tetapi anak-anak lebih suka ikut orang tuanya ke hutan mencari rotan dari pada datang ke sekolah itu menghabiskan waktu luang. Banyak juga orang tua yang melarang anaknya sekolah agar tidak banyak berpikir. Karena penduduk kota Rantasa percaya bahwa semua penyakit-penyakit aneh —yang susah disembuhkan oleh dukun dan dokter— disebabkan oleh karena banyak berpikir yang bukan-bukan. Sehingga mereka memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya agar terhindar penyakit-penyakit aneh. Sekolah dianggap telah mengajarkan hal-hal yang bukan-bukan yang membuat anak-anak berpikir sesuatu yang bukan-bukan juga.
Keunikan Labetta adalah memanggil nama murid-muridnya dengan julukan unik yang dia pilih sendiri. Semua murid dipanggilnya dengan julukan yang aneh-aneh. Seorang anak perempuan bernama asli Ana Macanti selalu dipanggil Belut oleh Labetta, walau di rumahnya dia dipanggil Canteng, hanya gara-gara Canteng suka sekali membawa makanan yang lauknya terbuat dari Belut ke sekolah. Ada juga murid yang dipanggil Liur karena dari mulutnya selalu keluar air liur kalau serius mengikuti pelajaran atau ketika melamun. Ada juga yang dipanggilnya Telur karena bapaknya seorang pedagang telur. Ada yang dipanggil Naga, Pencopet, Tikus, Bulat, Panjang dan lain-lain. Pokoknya semua murid di kelas itu dipanggil dengan julukan-julukan. Tak ada murid yang dipanggil dengan nama asli. Meskipun tak seorang dari mereka senang dengan julukan yang disandangnya.
Begitulah keunikan Labetta sehingga setiap hari ketika membaca daftar hadir, murid-murid tersebut dipanggil menurut nama julukannya masing-masing. Setiap mengumpulkan tugas dan pekerjaan rumah, mereka harus menuliskan nama julukan mereka dengan huruf balok besar-besar di sudut kanan atas. Tidak boleh ada yang coba-coba melanggar. Kalau ada yang melanggar dia akan dapat hukuman dengan menyandang satu nama julukan baru. Seperti yang dialami Isampo Geno, karena lupa menuliskan nama julukannya pada lembar jawaban ulangannya, dia yang semula dipanggil Taring oleh Labetta karena giginya yang runcing-runcing, akhirnya harus rela dipanggil Taring Babi. Begitu juga dengan Liur yang sekarang namanya berubah menjadi Liur Anjing. Menjijikkan sekali.
Lebih gila lagi, setiap anak harus mempunyai papan nama yang ditempel dibaju seragamnya yang berwarna kelabu, sesuai dengan nama julukan yang diberikan oleh Labetta. Tujuannya supaya orang lain memanggil seseorang dengan nama di papan nama tersebut. Semua anak punya riwayat tersendiri kenapa dia memiliki nama seperti yang tertulis di baju seragamnya yang berwarna kelabu itu. Sekali lagi tidak boleh ada yang melanggar karena Labetta tak pernah segan menambahkan satu lagi julukan di belakang nama julukan sebelumnya. Atau menggantinya dengan julukan yang lebih buruk. Semua murid patuh. Tak ada satu pun yang mau membantah. Menurut adalah pilihan yang lebih baik ketimbang mendapatkan julukan baru yang lebih memalukan.
***
Pada suatu hari, anak kelas tiga mengikuti pelajaran menggambar. Labetta menyuruh masing-masing muridnya untuk menggambarkan sebuah bendera negara apa saja yang mereka ingat. Telur —nama aslinya Bara Iko—menggambar bendera Malaysia karena dia pernah melihat bendera tersebut di baju bapaknya yang pernah merantau ke negara tersebut. Marecu Senna, anak yang dijuluki Gajah karena gendut dan kuat makan, menggambar bendera Amerika. Ada juga yang menggambar bendera yang hanya satu warna, yaitu warna hitam. Ketika salah satu temannya bertanya, “Bendera apa itu?” Dia hanya menjawab, “Tidak tahu, saya tidak pernah melihat bendera.” Ada yang berwarna kuning, ada yang seperti kain batik, ada yang hanya kotak-kotak, ada yang seperti bendera mayat. Banyak sekali macam bendera yang digambar oleh mereka.
Setelah selesai, giliran Labetta memeriksa bendera-bendera tersebut. Semua anak gelisah. Mereka takut Labetta marah karena gambarnya jelek. Karena seperti biasa Labetta sering terinspirasi untuk memberi, menambah, atau mengganti julukan muridnya setelah memeriksa hasil pekerjaan mereka. Panjang, nama aslinya Itanre Ladde, mendapat penggantian nama julukan. “Panjang, namamu sekarang saya ganti dengan Pocong,” kata Labetta disambut dengan suara tawa oleh teman-teman Panjang. Panjang protes. Tetapi Labetta tidak peduli. Dalam kelas itu berlaku aturan, Patuhi guru, apa pun yang terjadi! Tetapi Panjang minta penjelasan kenapa namanya diganti menjadi Pocong. “Kamu saya panggil Pocong karena kamu menggambar bendera mayat bukan bendera negara. Mengerti?” Murid yang lain menertawai Pocong. Pocong hanya bisa pasrah. Dia sedih sekali. Dia memikirkan cara cari uang untuk mengganti papan namanya. Sebelum keluar dari kelas Labetta memanggil Isabbara ke kantor kepala sekolah dan memerintahkan kepada yang lainnya untuk tetap di tempat. Semua murid dalam kelas itu bertanya-tanya. Isabbara sangat takut.
Isabbara, yang dijuluki Lemah Syahwat karena pernah tidak datang ke sekolah karena alat kelaminnya bengkak setelah disunat, mengikuti langkah Labetta ke kantor dengan perasaan tak menentu. Dia menangis. Dia sedih. Apa yang akan terjadi dengan dirinya. Sesampainya di ruang kepala sekolah, Labetta menempeleng Isabbara. Lalu Labetta membentur-benturkan keras-keras kepala Isabbara di meja. “Sekarang nama kamu saya ganti dengan ini,” sambil menuliskan sesuatu dengan spidol berwarna merah di dahi Isabbara. “Ayo, kita ke kelas lagi!”
Sesampainya di kelas Labetta menyuruh Isabbara berdiri di depan kelas. “Sekarang nama Lemah Syahwat diganti dengan nama yang ada di jidatnya yang rata itu.” Murid yang lain tertawa. “Kalian semua tidak boleh lagi memanggilnya Lemah Syahwat,” sambung Labetta, “Dan ingat jangan coba-coba mendekati dia lagi. Dia sangat berbahaya.” Isabbara menangis tersedu-sedu. Dia belum tahu nama seperti apa sekarang yang ada di dahinya. Dia juga tidak tahu siapa yang ada di depannya yang tertawa itu. Dan siapa orang yang selalu berbicara di sampingnya itu. Benturan keras di kepalanya telah membuatnya lupa segala sesuatunya.
Lalu Labetta menulis sesuatu di papan tulis. “Sekarang kau teriakkan kalimat ini seribu kali.” Labetta membentak Isabbara. Sambil menagis Isabbara membaca tulisan itu.
Nama saya Teroris. Saya berjanji tidak akan menggambar bendera dengan bintang-bintang dan bulan sabit lagi!
***
Begitulah kisah yang diceritakan Loppo Pau pada saya hari itu. Saya menangis bercampur marah. Saya ingin membenturkan kepala Labetta di tembok. Ingin sekali balas dendam. Tetapi Loppo Pau menyarankan saya untuk melupakan niat itu. Menurut Loppo Pau, Labetta memang masih hidup. Sekarang sudah memiliki banyak anak dan cucu yang tersebar di mana-mana. Selain jadi guru banyak juga anak dan cucunya yang jadi polisi. Ada juga yang jadi ulama, bupati dan gubernur. Bahkan menurut Loppo Pau salah satu anaknya pernah menjadi calon Presiden di negeri Mabela ini. Labetta guru yang betul-betul unik.
Benar kata Loppo Pau, semua orang punya keunikan. Keunikan saya sejak kecil adalah suka sekali keluar malam memandangi bintang-bintang dan bulan sabit. Dan keunikan itulah yang kemudian membuat saya sampai sekarang dipanggil oleh orang lain dengan nama Teroris karena menggambarnya dalam bendera saya. Betul, semua orang punya keunikan, bahkan keunikan itu sendiri bisa kita lihat dari nama seseorang. Siapa namamu? Siapapun namamu, hati-hati dengan keunikan yang kau miliki!