h1

Unseen Love

Februari 12, 2008

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur????
ketika kita menangis????
Ketika kita membayangkan?????
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT…(red: ahh yang benerrr!!!)
Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita..
kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA…(red:ehem..ehem)
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan…..
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan.….
Tapi ingatlah.….
melepaskan BUKAN akhir dari dunia..
melainkan awal suatu kehidupan baru..
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari…dan mereka yang telah
mencoba..
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka…….

CINTA yang AGUNG?
Adalah ketika kamu menitikkan
air mata dan MASIH peduli terhadapnya.. Adalah ketika dia tidak
mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia ….
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata…….
‘Aku turut berbahagia untukmu’.
Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu… Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
tapi..
ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati bersamanya…
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang….
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh…..
Entah bagaimana…dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar tentang dirimu sendiri..dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada. HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan2 kehidupan yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI…
mengerti ketika kamu berkata ‘Aku lupa..’
Menunggu selamanya ketika kamu berkata ‘Tunggu sebentar’
Tetap tinggal ketika kamu berkata ‘Tinggalkan aku sendiri’ Membuka pintu
meski kamu BELUM mengetuk dan
berkata ‘Bolehkah saya masuk?’

MENCINTAI…
BUKANlah bagaimana kamu melupakan..melainkan bagaimana kamu
MEMAAFKAN..
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan..melainkan bagaimana kamu MENGERTI..
BUKANlah apa yang kamu lihat..melainkan apa yang kamu
RASAKAN..
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan..melainkan bagaimana kamu BERTAHAN..
Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati…dibandingkan menangis tersedu2.. Air mata yang keluar dapat dihapus…… sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang..
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang.. Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah……, kamu TETAP MENANG…
karena kamu berbahagia..dapat mencintai seseorang..LEBIH dari mencintai dirimu sendiri..
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
TETAPI…Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia.. jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar2 mencintai….
MELAINKAN…
BERJUANGLAH demi cintamu….. Itulah CINTA SEJATI.
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang ‘yang tersedia’

h1

Namaku Bukan Namaku

Februari 10, 2008

Siapa namamu? Saya berharap namamu tidak sejelek nama saya. Orang-orang selalu menertawai namaku. Kenapa orang tua saya memberi nama yang unik seperti ini. Kenapa saya harus mempunyai nama yang memalukan seperti ini, saya tak pernah tahu. Saya sungguh-sungguh tak pernah tahu sampai suatu hari seseorang bernama Loppo Pau yang mengaku teman sekolah saya sewaktu masih SD bercerita tentang sebuah kisah.
***

Semua orang sama uniknya dengan sidik jarinya. Kamu unik, saya juga unik. Semua orang memiliki keunikan yang berbeda dengan orang lain. Labetta seorang lelaki berumur dua puluh delapan tahun memiliki sebuah keunikan. Dia adalah seorang guru sebuah sekolah dasar di Rantasa, sebuah kota kecil di negeri Mabela. Sebuah sekolah yang sangat jelek, sangat kotor. Penuh dengan sampah-sampah. Di selokannya penuh dengan limbah yang sangat busuk. Di sekeliling sekolah itu tumbuh belukar yang tinggi-tinggi. Dan di tengah belukar-belukar yang tinggi dan beracun itu banyak hidup binating berbisa seperti ular dan kalajengking. Binatang-binatang itu seringkali masuk ke dalam kelas dan menggigit anak-anak yang sedang belajar. Di dalam kelas juga banyak tumbuh ilalang yang bunganya selalu melengket di rok dan celana murid-murid yang masih kecil-kecil itu. Sangat mengganggu.
Labetta mengajar murid kelas tiga. Muridnya sedikit, hanya lima belas orang. Padahal di kota Rantasa itu banyak sekali anak yang semestinya sekolah. Tetapi anak-anak lebih suka ikut orang tuanya ke hutan mencari rotan dari pada datang ke sekolah itu menghabiskan waktu luang. Banyak juga orang tua yang melarang anaknya sekolah agar tidak banyak berpikir. Karena penduduk kota Rantasa percaya bahwa semua penyakit-penyakit aneh —yang susah disembuhkan oleh dukun dan dokter— disebabkan oleh karena banyak berpikir yang bukan-bukan. Sehingga mereka memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya agar terhindar penyakit-penyakit aneh. Sekolah dianggap telah mengajarkan hal-hal yang bukan-bukan yang membuat anak-anak berpikir sesuatu yang bukan-bukan juga.
Keunikan Labetta adalah memanggil nama murid-muridnya dengan julukan unik yang dia pilih sendiri. Semua murid dipanggilnya dengan julukan yang aneh-aneh. Seorang anak perempuan bernama asli Ana Macanti selalu dipanggil Belut oleh Labetta, walau di rumahnya dia dipanggil Canteng, hanya gara-gara Canteng suka sekali membawa makanan yang lauknya terbuat dari Belut ke sekolah. Ada juga murid yang dipanggil Liur karena dari mulutnya selalu keluar air liur kalau serius mengikuti pelajaran atau ketika melamun. Ada juga yang dipanggilnya Telur karena bapaknya seorang pedagang telur. Ada yang dipanggil Naga, Pencopet, Tikus, Bulat, Panjang dan lain-lain. Pokoknya semua murid di kelas itu dipanggil dengan julukan-julukan. Tak ada murid yang dipanggil dengan nama asli. Meskipun tak seorang dari mereka senang dengan julukan yang disandangnya.
Begitulah keunikan Labetta sehingga setiap hari ketika membaca daftar hadir, murid-murid tersebut dipanggil menurut nama julukannya masing-masing. Setiap mengumpulkan tugas dan pekerjaan rumah, mereka harus menuliskan nama julukan mereka dengan huruf balok besar-besar di sudut kanan atas. Tidak boleh ada yang coba-coba melanggar. Kalau ada yang melanggar dia akan dapat hukuman dengan menyandang satu nama julukan baru. Seperti yang dialami Isampo Geno, karena lupa menuliskan nama julukannya pada lembar jawaban ulangannya, dia yang semula dipanggil Taring oleh Labetta karena giginya yang runcing-runcing, akhirnya harus rela dipanggil Taring Babi. Begitu juga dengan Liur yang sekarang namanya berubah menjadi Liur Anjing. Menjijikkan sekali.
Lebih gila lagi, setiap anak harus mempunyai papan nama yang ditempel dibaju seragamnya yang berwarna kelabu, sesuai dengan nama julukan yang diberikan oleh Labetta. Tujuannya supaya orang lain memanggil seseorang dengan nama di papan nama tersebut. Semua anak punya riwayat tersendiri kenapa dia memiliki nama seperti yang tertulis di baju seragamnya yang berwarna kelabu itu. Sekali lagi tidak boleh ada yang melanggar karena Labetta tak pernah segan menambahkan satu lagi julukan di belakang nama julukan sebelumnya. Atau menggantinya dengan julukan yang lebih buruk. Semua murid patuh. Tak ada satu pun yang mau membantah. Menurut adalah pilihan yang lebih baik ketimbang mendapatkan julukan baru yang lebih memalukan.
***
Pada suatu hari, anak kelas tiga mengikuti pelajaran menggambar. Labetta menyuruh masing-masing muridnya untuk menggambarkan sebuah bendera negara apa saja yang mereka ingat. Telur —nama aslinya Bara Iko—menggambar bendera Malaysia karena dia pernah melihat bendera tersebut di baju bapaknya yang pernah merantau ke negara tersebut. Marecu Senna, anak yang dijuluki Gajah karena gendut dan kuat makan, menggambar bendera Amerika. Ada juga yang menggambar bendera yang hanya satu warna, yaitu warna hitam. Ketika salah satu temannya bertanya, “Bendera apa itu?” Dia hanya menjawab, “Tidak tahu, saya tidak pernah melihat bendera.” Ada yang berwarna kuning, ada yang seperti kain batik, ada yang hanya kotak-kotak, ada yang seperti bendera mayat. Banyak sekali macam bendera yang digambar oleh mereka.
Setelah selesai, giliran Labetta memeriksa bendera-bendera tersebut. Semua anak gelisah. Mereka takut Labetta marah karena gambarnya jelek. Karena seperti biasa Labetta sering terinspirasi untuk memberi, menambah, atau mengganti julukan muridnya setelah memeriksa hasil pekerjaan mereka. Panjang, nama aslinya Itanre Ladde, mendapat penggantian nama julukan. “Panjang, namamu sekarang saya ganti dengan Pocong,” kata Labetta disambut dengan suara tawa oleh teman-teman Panjang. Panjang protes. Tetapi Labetta tidak peduli. Dalam kelas itu berlaku aturan, Patuhi guru, apa pun yang terjadi! Tetapi Panjang minta penjelasan kenapa namanya diganti menjadi Pocong. “Kamu saya panggil Pocong karena kamu menggambar bendera mayat bukan bendera negara. Mengerti?” Murid yang lain menertawai Pocong. Pocong hanya bisa pasrah. Dia sedih sekali. Dia memikirkan cara cari uang untuk mengganti papan namanya. Sebelum keluar dari kelas Labetta memanggil Isabbara ke kantor kepala sekolah dan memerintahkan kepada yang lainnya untuk tetap di tempat. Semua murid dalam kelas itu bertanya-tanya. Isabbara sangat takut.
Isabbara, yang dijuluki Lemah Syahwat karena pernah tidak datang ke sekolah karena alat kelaminnya bengkak setelah disunat, mengikuti langkah Labetta ke kantor dengan perasaan tak menentu. Dia menangis. Dia sedih. Apa yang akan terjadi dengan dirinya. Sesampainya di ruang kepala sekolah, Labetta menempeleng Isabbara. Lalu Labetta membentur-benturkan keras-keras kepala Isabbara di meja. “Sekarang nama kamu saya ganti dengan ini,” sambil menuliskan sesuatu dengan spidol berwarna merah di dahi Isabbara. “Ayo, kita ke kelas lagi!”
Sesampainya di kelas Labetta menyuruh Isabbara berdiri di depan kelas. “Sekarang nama Lemah Syahwat diganti dengan nama yang ada di jidatnya yang rata itu.” Murid yang lain tertawa. “Kalian semua tidak boleh lagi memanggilnya Lemah Syahwat,” sambung Labetta, “Dan ingat jangan coba-coba mendekati dia lagi. Dia sangat berbahaya.” Isabbara menangis tersedu-sedu. Dia belum tahu nama seperti apa sekarang yang ada di dahinya. Dia juga tidak tahu siapa yang ada di depannya yang tertawa itu. Dan siapa orang yang selalu berbicara di sampingnya itu. Benturan keras di kepalanya telah membuatnya lupa segala sesuatunya.
Lalu Labetta menulis sesuatu di papan tulis. “Sekarang kau teriakkan kalimat ini seribu kali.” Labetta membentak Isabbara. Sambil menagis Isabbara membaca tulisan itu.
Nama saya Teroris. Saya berjanji tidak akan menggambar bendera dengan bintang-bintang dan bulan sabit lagi!
***
Begitulah kisah yang diceritakan Loppo Pau pada saya hari itu. Saya menangis bercampur marah. Saya ingin membenturkan kepala Labetta di tembok. Ingin sekali balas dendam. Tetapi Loppo Pau menyarankan saya untuk melupakan niat itu. Menurut Loppo Pau, Labetta memang masih hidup. Sekarang sudah memiliki banyak anak dan cucu yang tersebar di mana-mana. Selain jadi guru banyak juga anak dan cucunya yang jadi polisi. Ada juga yang jadi ulama, bupati dan gubernur. Bahkan menurut Loppo Pau salah satu anaknya pernah menjadi calon Presiden di negeri Mabela ini. Labetta guru yang betul-betul unik.
Benar kata Loppo Pau, semua orang punya keunikan. Keunikan saya sejak kecil adalah suka sekali keluar malam memandangi bintang-bintang dan bulan sabit. Dan keunikan itulah yang kemudian membuat saya sampai sekarang dipanggil oleh orang lain dengan nama Teroris karena menggambarnya dalam bendera saya. Betul, semua orang punya keunikan, bahkan keunikan itu sendiri bisa kita lihat dari nama seseorang. Siapa namamu? Siapapun namamu, hati-hati dengan keunikan yang kau miliki!

h1

Babi Gantung — Karmakronik

Februari 10, 2008

[1]

Tetanggaku bercerita berapi-api tentang babi yang gantung diri pakai dasi. Katanya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bersama mata kepala selingkuhannya, tadi, di belakang kantor kelurahan yang sudah sepi.

Bukan cuma itu, mereka, katanya, juga mendengar babi itu merintih minta tolong. Begitu ketakutan mereka hingga tak jadi menjalankan niatnya untuk sabung birahi. Lari. Lalu setelah mengantar selingkuhannya pulang, dia segera ke rumahku untuk menceritakan semua yang dilihatnya itu. juga semua yang didengarnya. semua yang dilihat dan didengar olehnya bersama dengan selingkuhannya.

Bagaimana bisa dipercaya?

Sekalipun dia adalah tetanggaku dan juga temanku yang paling jujur, dan semua orang di kampung ini tahu itu. Bahkan pada istrinya pun jujur dia katakan kalau dia berselingkuh. Tapi seperti biasa, karena begitu terkenal reputasinya sebagai orang jujur, istrinya menganggap dia bercanda. Istrinya sering mengatakan ke tetangga- tetangga bahwa selain jujur, suaminya itu suka bercanda. Romantis, katanya. Sudahlah, aku tak mau ikut campur masalah rumah tangga orang.

Tapi aku pikir kali ini dia mengada-ada. Tapi, sebagai temannya aku tak ingin reputasinya hancur gara-gara masalah babi ini, jadi aku menganjurkannya supaya dia tidak menceritakan hal ini ke orang lain. Karena, jujur saja, aku seringkali membutuhkan kejujurannya itu untuk kepentingan-kepentinganku. Bagaimana bisa, atau bagaimana caranya, biarlah itu jadi rahasia kami saja. Yah, mungkin aku bukan teman yang baik, apalagi sejati, cuma teman saja, teman kebanyakan, seperti kebanyakan seorang teman. Tapi aku lebih suka menyebutnya: realistis.

Dan, sebagai orang yang realistis, tentu aku tak bisa begitu saja percaya pada cerita tetanggaku itu yang … apa namanya? surealis? yah, apalah itu, pokoknya tidak logis. Menurutku kemungkinan yang paling masuk akal jika memang yang dilihat tetanggaku itu benar–wah, mengapa aku jadi mulai sangsi dengan kejujurannya?–maka ada seseorang yang menjerat leher seekor babi dan menggantungnya di belakang kantor kelurahan. Tentang suara minta tolong itu? Entah, tapi, karena aku sudah terlanjur menyangsikan kejujurannya, aku berpikir itu konspirasi mereka untuk mendramatisir ceritanya.

Maka, demi pelurusan kebenaran dan pemenuhan rasa penasaran, aku mengajak tetanggaku itu untuk melihat lokasi kejadian. Hampir saja aku menanyakan apa dia masih ketakutan, tapi kemudian aku sadar kalau dua atau lebih laki-laki melahirkan keberanian (agar lebih fair, begini versi lengkapnya: “satu orang laki-laki mengahasilkan omong besar, dua atau lebih laki-laki menghasilkan keberanian”), itu sudah hukum alam. Setidaknya, menurutku.

Benar, dia langsung menyetujuinya dan terlihat begitu bersemangat

Dan, ternyata juga benar apa yang dikatakannya. Aku melihatnya, seekor babi tergantung dengan dasi yang menjerat lehernya. Seekor babi yang besar. Dan terlihat segerombolan tikus mengerubunginya di bawah seakan mengharap dasi itu putus dan babi itu jatuh agar bisa menyantapnya. Beberapa dari mereka, yang berbadan besar, berusaha menjilat kaki belakang babi yang berjarak beberapa senti dari tanah, sambil sesekali meloncat- loncat. Menjijikkan. Tentu saja, seperti perkiraanku, tak ada suara minta tolong. Tapi aku tak mau membahasnya lagi, tetanggaku pasti akan berkelit mengatakan kalau babi ini sudah sepenuhnya mati, jadi tentu saja tak bisa lagi bersuara.

Aku juga tak ingin berdiskusi dengan tetanggaku ketika sekilas kulihat lidah tikus-tikus yang menjilat kaki babi itu bercabang, seperti lidah ular. Bahkan aku sendiri sejujurnya tak begitu yakin apakah tikus punya lidah. Aku malas mendengar teori tetanggaku yang pasti akan mengatakan bahwa itu tikus-tikus itu adalah tikus surealis dari negeri tidak logis yang datang dengan tujuan mistis dan seterusnya dan seterusnya. Dan aku melihat tetanggaku juga tak bernafsu membahasnya, wajahnya terlihat tegang menyaksikan pemandangan menjijikkan ini

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara teriakkan. Benar-benar dikejutkan. Kami sama-sama melompat karenanya. Sialan!. Arah suara itu berasal dari seseorang yang berlari ke arah kami. Kami mengenalnya, tetangga kami juga. Sehari-harinya dia bekerja sebagagi kenek angkutan desa. Orang jujur juga, tapi reputasi kejujurannya tidak setinggi temanku. Sesekali pernah dia ketahuan berbohong. Kalau menurutku pribadi, tetanggaku yang kenek lebih baik dari tetanggaku yang temanku ini. Dia memang beberapa kali berbohong, tapi aku tahu itu untuk tujuan baik, sedangkan temanku sering memanfaatkan kejujurannya, atau lebih tepatnya, reputasi kejujurannya, untuk tujuan yang busuk. Tapi, sejujurnya pula, aku tak peduli.

Sejenak kami bisa melupakan ketegangan dan rasa jijik melihat tetanggaku yang kenek itu berlari dari kejauhan sambil berteriak-teriak. Ada yang lucu padanya: dia memakai setelan jas. Kami saling berpandangan tersenyum geli. Kami tahu, jas jelas di luar jangkauan kebutuhan dan kemampuannya. Tak banyak, mungkin hanya satu dua orang di kampung ini yang punya jas, dan pasti tetanggaku yang kenek itu berada bersama kelompok mayoritas. Tapi tak ada sama sekali di benak kami kalau jas yang dia pakai itu hasil mencuri, seperti kataku tadi, dia juga orang jujur. Hanya geli, ekspresi muka dan pembawaannya itu sama sekali tidak match dengan jas yang dia pakai.

“Sudah mati? Babi sialan. Aku yang menggantungnya tadi,” katanya setengah terengah setelah tadi berlari mendekati kami. Ah, akhirnya, logika pemenangnya. Gantung diri? Hahaha aku melirik setengah mengejek ke arah temanku, tapi dia pura-pura tak melihatnya. Sudahlah, lagi pula ternyata tak sepenuhnya logis apa yang diceritakan tetanggaku yang kenek ini. Dia mengatakan kalau memergoki babi itu sedang berusaha mencuri uang simpanannya di lemari. Babi itu lari dan tetanggaku itu mengejarnya sampai akhirnya berhasil menangkap dan menggantungnya di sini. Rumahnya memang tak jauh dari kantor kelurahan ini.

Tetapi, biarlah, cerita babi jadi-jadian yang suka mencuri atau lebih dikenal dengan nick name-nya “babi ngepet”, masihlah bisa diterima oleh orang kampung. Walaupun menurutku ini adalah babi betulan yang masuk ke rumahnya, menabrak lemarinya hingga terbuka, mengendus-endus isinya, tanpa trik. Ah, tapi tak ada gunanya aku mendebatnya. Di kampung ini hiburan yang ada sangat sedikit, dan cerita-cerita konyol seperti itu salah satunya, jadi aku tak tega merusaknya.

Tetanggaku yang kenek itu juga mengatakan kalau dia terpaksa meninggalkan babi ini tanpa langsung menurunkannya karena ingat ada janji ketemu dengan juragannya, pemilik angkutan desa. Entah urusan apa, dia tidak mengatakannya, tapi tampaknya penting sehingga katanya dia terpaksa meninggalkan babi ini dalam keadaan belum mati. Aku dan temanku cuma manggut-manggut mendengar ceritanya. Semoga dia tidak menangkap ekspresi kami yang menahan tawa melihat ketidakserasian jas yang dipakainya itu.

Mungkin jas itu didapatnya dari juragannya. Entah hadiah, atau karena juragannya itu kelebihan jas, atau mungkin ada yang ukurannya kekecilan, daripada dibuang lebih baik disumbangkan ke pegawainya. Ya, mungkin seperti itu. Tapi aku tak berani menanyakannya, takut tawaku lepas. Juga temanku, dia diam saja dari tadi. Mungkin dia sadar bahwa tidak selalu kejujuran harus diungkapkan.

Jadi, maksud tetanggaku yang kenek itu kembali ke sini adalah untuk memastikan babi itu mati dan menurunkannya. Dia tak mau kejadian itu menghebohkan kampung ini. Makanya dia juga terus-menerus mengingatkan kami untuk tidak menceritakan hal ini ke tetangga-tetangga yang lain. Bagiku tak jadi masalah, aku cuma khawatir dengan temanku yang paling tidak bisa menjaga rahasia, atau menurutnya, menahan kejujuran. Tapi setelah kupikir lagi, untuk apa aku khawatir, tak juga jadi masalah buatku kalau semua orang tahu kejadian ini. Kami mengangguk.

“Nanti biar aku yang menguburnya. Ingat, jangan bilang siapa-siapa,” sekali lagi dia mengingatkan, entah sudah yang keberapa kalinya. Dan kami mengangguk lagi. Aku jadi berpikir kalau dia sebenarnya tahu siapa pemilik babi itu dan dia takut kalau orang itu sampai tahu dia yang membunuh babi peliharaannya. Tapi, seingatku, di kampung ini tak ada yang memelihara babi. Entahlah.

Lalu dia mendekati babi yang tergantung itu, untuk menurunkannya. Tikus-tikus aneh tadi langsung berlarian melihat ada yang datang mendekat. Ternyata ia kemari bukan hanya untuk memastikan babi itu sudah mati dan menurunkannya, tapi, “Aku juga kemari untuk ambil dasi ini. Yang untuk menjeratnya ini.”

“Kenapa mengikatnya pakai dasi?,” tak tahan aku untuk bertanya.

“Tidak ada tali, jadi aku pakai dasinya saja.”

“Dasinya?,” kali ini aku dan tetanggaku hampir bersamaan.

“Ya, babi sialan ini memang tadi memakai dasi. Ya, dasi ini…,” katanya setelah berhasil melepaskan ikatan dasi pada leher babi itu. “Juga jas yang sekarang aku pakai ini.”

h1

Setangkai Melati Patah di Balik Senja

November 20, 2007

Kepedihan dan penyesalan telah membelenggu bibir dari tawa dan senyumku. Tak seorangpun mendapatkannya lagi. Aku telah mempersembahkannya hanya untukmu kasih. Tapi kini engkau telah tergolek diam dalam keabadian. Biarlah kulukis setangkai melati patah di balik senja pada nisanmu, agar engkau selalu ingat selarik senja yang telah mempertemukan kita, senja itu pula yang mematahkan tangkaimu.
Palgunadi termenung di teras belakang rumahnya. Ini adalah untuk kesekian dia membaca cerpen dengan judul frase “senja”, seperti yang barusan dia baca “Setangkai Melati Senja untuk Kasihku” [1] di sebuah harian ibu kota. Selalu judul dengan senja itulah yang dipilih oleh Melati si penulis cerpen. Palgunadi hampir hafal seluruh judul cerpen-cerpennya mulai dari menjaring senja di puncak monas, senja di atas danau Biwa, senja di ujung penantian, senja di dua kota, dan senja-senja lainnya.
Rasanya Palgunadi tidak akan sedemikian penasaran kalau cerita yang didongengkan tidak sedemikian memikatkannya, bahkan dari kisah yang terus diikutinya dia mempunyai keyakinan Melati adalah seorang gadis yang merindukan kehadiran sosok seorang laki-laki pujaan. Dan laki-laki itu adalah dia, pikir Palgunadi. Sah-sah saja Palgunadi beranggapan seperti itu, karena dia memang tercipta sebagai pria ganteng yang sudah melanglang buana sebagai lelananging jagad [2]. Sayang, Palgunadi belum pernah mendengar ada acara bedah buku atau pemberian hadiah atas karya sastra Melati, atau setidaknya ada kabar kehadirannya dalam diskusi kebudayaan.
Ketika Palgunadi mendengar berita bahwa cerpen-cerpen Melati telah diterbitkan dalam sebuah buku, bergegas dia membeli buku itu, berharap ada sedikit keterangan mengenai Melati. Namun sia-sia, ketika dibuka lembar-lembar terakhir buku tersebut, data yang ada tak kalah misteriusnya. Nama: Melati; Tempat tanggal lahir: Bandung, suatu ketika. Cukup dua keterangan yang tidak memberikan makna apapun itulah yang didapatkan Palgunadi, setelah itu dibawahnya cuma tertulis karya-karya yang pernah dihasilkannya. Dan foto yang tertempel disana bukan foto seorang gadis yang sedang beraksi menebar senyum tetapi mekar bunga melati putih dibalik tabir semburat jingga warna senja.
Melati memang sosok yang sedemikian misteriusnya, bahan redaktur harian pagi maupun sore, tabloid, majalah serta jurnal kebudayaan tidak bisa memberikan keterangan apapun tentang sosok Melati. Fotokopi identitas diri yang ditunjukkan setiap media selau berbeda-beda, tak satupun bernama melati.
“Redaksi hanya mencantumkan nama yang dikehendaki oleh pengarang dan setiap penulis yang telah menunjukkan identitasnya berhak ditampilkan karyanya,” begitu selalu komentar redaktur yang didatangi menanggapi keluhan Palgunadi mengenai banyaknya identitas diri Melati.
“Tapi ini nama samarannya sama dan judulnya selalu memakai frase yang sama yaitu senja. Pasti penulisnya sama. Kenapa satu orang bisa menggunakan banyak identitas?”
“Apa anehnya?,” sergah seorang redaktur sebuah harian senja di suatu kota pada suatu senja yang sedemikian merah membara.
“Bisa saja penulisnya memang orang yang berbeda,” lanjut redaktur tadi sambil menyedot batang rokok kuat-kuat.
“Ah tidak mungkin. Aku sangat hapal akan gaya penulisannya. Dia sangat mengagumi senja.”
“Ha..ha..ha…senja selalu datang tiap hari, menggantikan siang yang panasnya membakar kota, setiap sore aku dan semua orang melek selalu melihat senja yang selalu sama dari hari ke hari, apalah anehnya.”
“Aku adalah pengagumnya yang ingin menemui, biarlah aku mendengarkan sendiri dia mendongengkan tentang senja terindah untukku. Aku sudah beberapa kali ke berbagai kantor redaksi harian, tapi selalu gagal mendapatkan identitas persis siapa Melati sebenarnya, apakah fotokopi KTP yang anda tunjukkan ini benar-benar nama asli si penulis cerpen itu?”
“Apalah artinya sebuah nama, mau namanya Melati, Mawar atau kembang tembelekan, kalau orangnya itu ya tetep seperti itu aja,” jawab sekenanya, sok mengutip kata-kata Shakespeare segala lagi pikir Palgunadi.
“Beribu bahkan mungkin berjuta orang membaca cerpen itu tapi tak satu pun yang keheranan, kenapa anda begitu antusias?”
“Aku ingin mengawini Melati!” jawab Palgunadi tak kalah ngawurnya sembari berkelebat pergi dengan hati gondok.
“Di kebun bunga banyak, bung! Ha…ha…ha….”
Palgunadi bukannya tidak pernah mencoba untuk mendatangi alamat-alamat yang tertera pada kartu identitas yang ditunjukkan oleh redaktur suatu harian, tapi selalu alamat yang didatanginya mengatakan hanya sebagai perantara yang mendapat kiriman naskah dari rekannya yang mengamanatkan agar dikirim ke redaksi harian tertentu. Alamat yang disebutkan oleh orang yang mendapatkan wasiat juga mengatakan hal yang sama. Jadi semacam surat berantai yang bisa dikirim dari mana saja oleh siapa saja, seperti pasar multilevel yang menyebar dari mulut ke mulut.
Palgunadi tidak kehabisan akal, meskipun alamatnya bisa di mana-mana, pasti honor yang diperoleh dikirimkan ke satu nomor rekening, pikirnya. Dicoba ditelusuri kembali alamat semula dan ditanyakan nomor-nomor rekeningnya, tak diduga ternyata honor yang didapat juga harus ditransfer lagi ke rekening-rekening lain secara berantai melingkar-lingkar tak ketahuan ujungnya. Mungkinkah orang sebanyak itu semua mau melaksanakan amanat Melati, apakah tidak ada seorang pun yang menyabot honornya? Minimal mengkorupsinya? Masih adakah orang yang bisa sedemikian bisa dipercaya. Atau barangkali Melati memang tidak memerlukan uang, pikir Palgunadi di setiap perjalanan pencariannya.
Entah energi apa yang menyebabkan Palgunadi tidak kenal jera dan putus harapan. Mungkin Palgunadi berpikir bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang dikehendaki perlu sebuah perjuangan, apalagi untuk mendapatkan Melati yang diyakini sanggup memberikan kebahagiaan baginya. Perjuangan yang berlawanan sekali dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan Palgunadi yang selalu dikerumuni dan dikejar-kejar oleh perempuan-perempuan cantik yang selalu mengantri cintanya meskipun mereka tahu akhirnya bakalan ditinggalkan Palgunadi juga.
Terus disusuri alamat demi alamat, bank demi bank, kota demi kota, negara demi negara, benua demi benua, dari waktu ke waktu dari senja ke senja. Hari berganti, waktu berlalu, tahun demi tahun telah dihabiskan Palgunadi dari taksi ke taksi, bus ke bus, kereta ke kereta, kapal ke kapal, pesawat ke pesawat. Tak ada senja yang tak terekam dibenak, tak seorang pun terlewatkan untuk dimintai keterangan kalau-kalau mereka pernah berjumpa dengan Melati.
Senja membara di atas Monas, senja yang mengapung di danau Biwa, senja di balik tugu, senja yang berkilauan di laut Mediterania, sampai senja yang menyepuh Rocky Mountain. Tapi hasilnya nihil, tak seorang pun mengaku mengenal Melati atau setidaknya memberi keterangan pernah berjumpa dengan seorang gadis dari Indonesia yang sedang menunggu kekasihnya di suatu senja. Melati bagaikan tumbuh di Gurun Sahara tanpa batang tanpa daun.
Tak terasa uban telah menjamur di kepala Palgunadi, kulit pun tampak berkeriput. Sudah 365 kali 40 senja dihabiskan hanya untuk mencari Melati. Entah hubungan batin macam apa yang sanggup membuat seseorang merasa terpaut dari hanya dari tulisan orang lain. Adakah gelombang magnetik menghubungkan ikatan sedemikian kuatnya? Tak ada seorang pun yang tahu, hanya Palgunadi yang bisa merasakannya.
Sampai suatu ketika Palgunadi mendapati sebuah fotokopi KTP lusuh dari seorang redaktur harian yang tak terkenal di ibu kota. Tertera nama Melati di KTP itu. Binar mata Palgunadi seolah mengalahkan semburat keemasan di langit barat. Berkali-kali dibuka kacamata, dilap sambil mengucak-ucak matanya, tetap saja nama Melati yang tertera di situ. Bergegas dengan tak lupa mengucapkan terimaksih berkali-kali Palgunadi menyetop taksi yang melintas. Langsung ditunjukkan pada sopir, fotokopi KTP yang dipegangnya sembari memerintahkan agar memacu taksi ke alamat yang tertera secepatnya.
Taksi bergerak menembus debu senja yang memadati udara Jakarta. Senja yang kilauannya dari pantulan kaca-kaca gedung yang menjulang mampu membuncahkan perasaan Palgunadi, jantung Palgunadi pun berdegup kencang seperti masa remaja saat pertama kali dia mengucapkan kata cinta pada gadis pujaannya dalam sebuah taman di suatu senja yang bisu setangkai melati disematkan di atas telinganya. Melati sebagai ungkapan putihnya cintaku kata Palgunadi.
Cinta itu juga yang mulai dibisikkan ke telinga gadis dan wanita yang mengaguminya, ketika nama Palgunadi sebagai jurnalis sedang meroket bak meteor. Cinta yang ketika mulai rimbun tumbuh di hati Palgunadi tiba-tiba dihempas oleh badai taifun saat gadis pujaannya harus menemui takdirnya. Cinta yang hadir seperti senja temaram yang tiba-tiba disergap mendung malam yang gulita.
Pada suatu senja yang paling durjana ketika Palgunadi memergoki mereka sedang memadu kasih. Kilatan belati pun menembus punggung kekasihnya. Ingin sekali Palgunadi mengadu nyawa dengan laki-laki yang merobek cinta dan hidupnya, tapi siapa sangka laki-laki itu adalah laki-laki yang paling dihormatinya. Laki-laki yang memberikan cinta sekaligus yang mencabutnya. Pandu, bapaknya.
Pedih dan penyesalan yang menyayat hati makin menggerogoti ingatan Palgunadi karena dia harus kehilangan kedua orang yang dicintainya. Pandu lebih memilih mengakhiri hidupnya serta si gadis yang tenggelam di taman kamboja.
Kepedihan dan penyesalan telah membelenggu bibir dari tawa dan senyum Palgunadi saat itu. Tak seorang pun mendapatkannya lagi, Palgunadi telah mempersembahkannya hanya untuk kekasihnya yang kini telah tergolek dalam keabadian. Kekasih yang mengalirkan cinta sekaligus melongsorkannya. Kekasih yang dicintai sekaligus dikhianati. Adakah cinta tanpa pengkhianatan?
“Biarlah kulukis setangkai melati patah di balik senja di atas nisanmu, agar engkau selalu ingat selarik senja yang telah mempertemukan kita, senja itu pula yang telah mematahkanmu,” kata Palgunadi ketika mengunjungi makam kekasihnya.
Taksi terus berlari menyusuri gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang memantulkan warna kelabu, melaju di atas tol, memasuki jalan-jalan protokol, gang-gang sempit dan berhenti tepat di depan alamat yang dituju: rumah Palgunadi.

h1

Sekilas about AFS Intercultural

November 13, 2007

Bina Antar BUdaya is a non-govenrmental, no-for-profit, volunteer base organization enganging in intercultural education exchange in cooperation with AFS Intercultural Programs. Our mission is creating a more just and peaceful world through the promotion of cultural understanding and international relationship, also envisages that these young people will one day become future leaders. We annually send and host high school students from various programs to all over the world”.

Becoming an Exchange Student

Setiap tahun Bina Antarbudaya menerima dan mengirim putra-putri terbaik yang secara serius berminat dan memenuhi persyaratan, tanpa membedakan agama, ras, suku, maupun latar belakang sosial, ekonomi untuk dapat tinggal dan belajar baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek di berbagai negara, antara lain : Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, Italia, Jepang, Jerman, Norwegia, Prancis dan Swiss.

Hm… agaknya kalau kamu pengen tahu jauh lebih banyak about AFS, kamu bisa buka http://www.bina-antarbudaya.net/

h1

Berbeda Itu, No Problem,!

Oktober 27, 2007

idle joe; Make a revolution, now!

gw da disini bwt ngajak lo semua berpartisipasi bwt ngasih karya-karya lo, gw yakin anak-anak Indonesia sekarang, bukan anak-anak bodoh ‘n nggak ngerti apa-apa, gw yakin semua anak bangsa, punya potensi ‘n keterampilan yang begitu besarnya, so, bwt lo yang ngerasa mampu ‘n bisa plus mau berbagi ilmu ‘n nyebarin semangat perubahan… Join with me, kalian boleh ngirimin karya kalian ke e-mail gw, koecing_poeny@yahoo.com… gw tunggu partisipasi kalian…

h1

Quote

Juli 7, 2007

Satu kebenaran yang kita suarakan dengan tajam dan jernih, akan membawa seribu kebaikan. Satu kebaikan yang mencuat dari setiap tetes kalimat dalam karya-karya kita, akan membawa perubahan-perubahan yang kita sendiri barangkali akan terkejut.

h1

Revolusi Pendidikan

Juli 7, 2007

PROFESIONALISME guru di negeri ini merupakan ungkapan semu dan bahkan tak dikenal dari segi praksis dunia pendidikan. Betapa tidak, profesi pendidik hanya menjadi profesi sambilan dan menjadi perhentian atau terminal terakhir setelah gagal mendapatkan profesi yang lain. Sungguh Ironis!

Dunia pendidikan yang notabene merupakan ibu yang melahirkan berbagai sumber daya manusia yang mengisi berbagai profesi kehidupan dikhianati. Kita semua menjadi durhaka. Para elit politik, penguasa, pemegang kebijaksanaan negeri ini, dan budaya keliru yang beredar di masyarakat terhadap dunia pendidikan telah durhaka kepada ibu yang melahirkannya. Akibatnya, kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini menjadi kacau dan terjebak dalam dimensi krisis yang berkepanjangan. Moralitas dan sumber daya manusia negeri ini mengalami dekadensi terstruktur dan mekanis. Haruskah hal ini terus berlangsung? Dunia pendidikan harus ditempatkan pada altar yang tinggi di atas segala dimensi kehidupan yang lain.

Dunia pendidikan di negeri ini selalu saja menyisakan berbagai ironisasi. Hal itu terjadi karena selama ini dunia pendidikan selalu dipandang sebelah mata dan tidak diperlakukan dengan sebagaimana mestinya. Bahkan, yang paling ironis lagi adalah kenyataan menyakitkan bahwa dunia pendidikan sudah menjadi budaya permainan politik. Berbagai investasi dan hegemoni politik terhadap dunia pendidikan selama ini terus berlangsung, dan bahkan dunia pendidikan menjadi komoditas politik yang keuntungannya tidak kembali kepada dunia pendidikan namun ke kantong kepentingan para elite politik.

Padahal, kita tahu bahwa semua pranata, semua komponen, semua struktur, semua pribadi itu lahir dari dunia pendidikan, pendidikan dalam arti luas yang telah menjadi prasyarat mutlak tereksistensinya sendi-sendi kehidupan. Kita kadang-kadang sering menjadi munafik terhadap kehidupan kita, terhadap eksistensi kita, terhadap apa yang kita raih sekarang ini, terhadap penghidupan yang telah menghidupkan kita dan terhadap segala hal yang telah mendidik kita menjadi orang terdidik, yang semua itu lahir dari pendidikan orangtua, sekolah, dan lingkungan di mana kita berdiri tegak sekarang ini.

Berbagai fenomena tersebut seolah menjadi cermin bagaimana akutnya penyakit budaya kehidupan kita terhadap dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap sebagai dunia stagnan yang hanya mengurusi jenjang-jenjang dan kuantitas-kuantitas yang pada akhirnya bisa menjadi modal untuk mencari kehidupan dengan didasari pola pikir yang materialistis. Betapa ironisnya, pendidikan kalau hanya berfungsi dan difungsikan sebagai satu mesin yang bergerak mekanis. Akibatnya, dunia pendidikan sekarang ini menjadi dunia yang kaku dan hanya melahirkan robot-robot mekanis yang tak berbudaya, yang tak bermoral, dan hanya mementingkan nilai-nilai kuantitas belaka tanpa memperhatikan kualitas yang seharusnya paling dipentingkan untuk membentuk manusia yang cerdas lahir dan batin sehingga bisa membentuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju dan berperadaban.

Salah satu akar masalah krisis multidimensi bangsa kita saat ini salah satu penyebabnya adalah pendidikan. Kemajuan pendidikan tentunya tak lepas dari peran guru kita sebagai pendidik bangsa yang bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa, dan peran pelajar sebagai tunas-tunas bangsa. Bangsa yang besar dan maju, pasti menempatkan dan menghargai pendidikan pada tempat yang istimewa. Sudah bukan rahasia lagi guru  diidentifikasikan sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” …, namun sampai saat ini, yang kita rasakan penghargaan dari sisi materi maupun nonmateri terhadap guru masih belum menggembirakan.

Berbagai hal diatas juga diperparah lagi dengan budaya yang beredar di masyarakat kita bahwa profesi sebagai pendidik, alias “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, adalah profesi yang tidak menjanjikan dan bahkan berposisi sebagai profesi yang berada dalam tingkatan nomor yang sekian dibawah profesi-profesi yang lain. Bahkan hal itu sudah menjadi konvensi yang mengakar dalam pola pikir masyarakat kita. Dampaknya, banyak orang yang menjadikan profesi guru sebagai profesi loncatan atau sebagai terminal terakhir setelah mencapai kegagalan dalam profesi yang lain. Kalau sudah begini, apakah mungkin dunia pendidikan akan melahirkan manusia-manusia berkualitas dan bermoral serta berperadaban yang bisa membangun negeri ini menuju puncak kejayaannya, sedangkan para pendidiknya berangkat dari unsur keterpaksaan dan tidak berasal dari hati nurani dan bermoral dari segi perilaku, sedangkan pola dan paradigma atau persepsi kehidupannya sudah tidak berangkat dari jalur yang benar?

Harus diakui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan, walaupun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih. Namun, bila tidak ditunjang oleh keberadaan guru yang berkualitas, maka mustahil akan menimbulkan proses belajar mengajar yang maksimal. Inilah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia, yang harus kita upayakan untuk menjadi lebih baik dan lebih bisa menunjang kebutuhan yang ada.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Saat ini, guru dikenal sebagai profesi yang sederhana. Karena sederhananya, sampai-sampai Iwan Fals, seorang musisi kesohor negeri ini, pernah membuat lagu tentang Oemar Bakri dengan tipikal sepeda bututnya. Pemerintah pun tak mau kalah, guru diberi gelar yang konon sakti dan prestisius, “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, yang sekarang justru menjadi “Pahlawan Kurang – Dibalas Jasa”.

Maka, ketika guru harus turun ke jalan untuk berdemonstrasi, karena sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian, banyak orang yang mencibirnya. Padahal, seharusnya pemanggul kebijakan di negeri ini harus responsive terhadap keberadaan sosok yang diperlakukan kurang manusiawi.

Demo Guru menuntut haknya!!!

Insan pendidikan yang patut digugu dan ditiru, berdemonstrasi di pusat-pusat pemerintahan. Puluhan ribu guru di Jawa Barat berdemonstrasi di gedung DPR/MPR pada pertengahan April 2000, pada tanggal 23 Agustus 2001, 5000 guru di jawa Timur memelopori gelombang demonstrasi dan aksi mogok mengajar. Mereka menuntut hak dan kesejahteraannya. Di era reformasi seperti ini, sangat besar kemungkinan aksi seperti itu akan terulang kembali, sebab sekarang sudah banyak organisasi profesi guru dan LSM yang peduli guru dan pendidikan.

Dari demonstrasi itu sebetulnya menyisakan banyak pertanyaan, apa yang sedang melanda dunia pendidikan kita? Mengapa semua itu terjadi? Apa yang mereka tuntut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari scenario pendidikan kita di Indonesia yang belum betul-betul menghargai dunia pendidikan sebagai sebuah profesi. Dunia yang harus digeluti dengan tekun, penuh semangat, dan jiwa professional.

Apa yang salah dengan negeri ini, sehingga negeri kita sudah jauh tertinggal dengan negara-negara lain yang jelas-jelas tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah?. Bagaimana modern dan majunya negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. Bagaimana jadinya bila kita bandingkan dengan negara Cina, Jepang, atau negara-negara maju lainnya di Eropa dan Amerika. Negara-negara tersebut memulai pembangunan negerinya dengan melaksanakan pendidikan yang baik untuk anak bangsanya, yaitu pendidikan yang terencana, terarah, dan tepat guna, sehingga memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Kita jarang menyadari bahwa dewasa ini kita mengetahui jauh lebih banyak tentang proses belajar yang kompleks dariipada 90 tahun yang lalu, tapi pola pendidikan kita belum berubah banyak. Kita telah membiarkan pola `kertas dan pensil` berkembang dan mengisi jam-jam belajar para siswa. Kita tahu bahwa para siswa dapat menulis lebih cepat dan lebih akurat dengan pembahasan yang bervariasi. Namun, dalam kenyataannya orang-orang tidak banyak mengetahui bagaimana mengatasinya jika para murid mencapai tujuan intelektual mereka lebih cepat.

Memperbaiki Kondisi Guru
Sekaranglah saat yang tepat untuk mengakui bahwa guru melakukan pekerjaan yang sulit dan penting, pekerjaan yang mensyaratkan keterampilan tinggi. Untuk memperbaiki dunia pendidikan Indonesia agar berkualitas di masa mendatang, pemerintah dan masyarakat juga setiap kepala rumah tangga harus memunyai perhatian yang penuh terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Now, let`s build and bring this nation into the world together.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.